Gelombang dan Petunjuk dalam Menuju Allah

Pada bagian ketiga ini akan dikemukakan sedikit pemahaman tentang beberapa golongan manusia dalam menuju Allah, serta petunjuk yang dapat dijadikan patokan sebagai pembuka jalan menuju Allah tersebut.

1.Beberapa Golongan dalam Menuju Alllah

Dalam reslitas sejarah kaum beriman, ada beberapa golongan hamba dalam menuju Allah. Tingkat pemahaman masing-masing golongan itu berbeda tergantung derajat yang diberikan Allah kepada mereka. Berbagai golongan tadi secara garis besar dapat digongkan sebagai berikut :

a. Golongan Pengikut atau Muttabi'
Golongan muttabi' ialah sekelompok orang awam yang menekuni agama hanya berperan sebagai simpatisan jamaah atau pengikut suatu komunitas keagamaan. Ciri khas kaum muttabi' (golongan awam) adalah bersikap taklid dan ikut-ikutan, tanpa prinsip dan pedoman yang jelas. Tingkat pemahamannya sangat terbatas, tergantung pada apa yang ia lihat ia dengar dari tokoh-tokoh agama. Belum memiliki suatu kepastian dan prinsip yang menjadi pedoman dalam hidupnya sehingga mudah sekali terombang-ambing. Kaum muttabi' dapat bertambah pemahaman keagamaannya adalah setelah meningkatkan statusnya menjadi santri, yaitu ikut serta belajar dengan tokoh-tokoh agama secara intensif dan kontinyu. Jika ia belajar dengan kyai/udztas yang berwawasan lahiryah syariat, maka ia akan memiliki wawasan tentang syariat. Tapi jika ia belajar dengan seorang Ulama/Wali, maka ia akan memperoleh wawasan ganda, tidak hanya syariat dzohiryah tapi juga bathinyah (ketuhanan).

b. Golongan Santri
Golongan santri ialah sekelompok orang yang dengan sadar ingin memperdalam agamanya, taat dan patuh dengan petunjuk yang telah digarikan gurunya. Proses belajarnya dapat menetap disuatu pondok atau tinggal di luar arena pondok. Satri dapat belajar dengan seorang Ulama atau Wali. Tingkatan pemahamnya dalam ilmu agama tergantung pada kecerdasannya dan derajat kemuliaan gurunya. Seorang santri tidak akan pernah menjadi kyai sebelum ia terus berusaha mendalami berbagai macam lmu agama. Bila ia belajar dengan kyai yang hanya menekuni bab lahir (syariat), maka hasil akhir hanya sebatas pengetahuan bab lahir saja. Tetapi bila ia belajar dengan seseorang yang berpredikat Wali atau ulama dengan bermodal pengetahuan bab lahir (syariat) yang dimilikinya, maka minimal ia menjadi seorang kyai, dan maksimal dalam batas-batas tertentu atas izin Allah dapat juga mencapai predikat Wali atau Ulama.

c. Kyai/Ustadz
Golongan kyai/ustadz ialah seorang figure tokoh agama yang banyak berperan dalam memberikan ilmu agama kepada orang lain. Predikat kyai/ustadz adalah gelar yang diberikan masyarakat karena dianggap mampu mengajar ilmu agama kepada masyarakat. Kyai bukan gelar yang diberikan Allah, karena itu seseorang yang dikatakan kyai/ustadz belum pasti mendapat naungan dan pertolongan Allah. Siapa saja dapat menjadi kyai selama ia mempunyai pengetahuan agama dan diakui oleh masyarakat. Seorang kyai tidak akan pernah mendapat derajat ulama/wali sebelum ia berusaha menambah dan mendalami bab bathin (ilmu ketuhanan). Kyai/ustadz yang telah mengamalkan semua ilmu yang dimilikinya (syariat) dan kemudian memahami sedikit banyak bathin, maka ia akan mendapatkan keistimewaan khusus dari Allah, yaitu maunah (pertolongan). Andaikan ia berdoa sekedar untuk dirinya dan untuk kepentingan orang lain, maka kecenderungan doanya akan dikabulkan Allah.

d. Golongan Waliyullah ( Kekasih Allah)
Golongan waliyullah ialah golongan yang mendapat derajat Allah lantaran kedekatan jiwa dan hatinya pada Allah. Predikat wali bukan atas pengangkatan rekayasa manusia, melainkan anugerah istimewa langsung dari Allah. Oleh karena itu seorang yang diangkat Allah menjadi wali (kekasih-Nya) tidak dapat diketahui oleh manusia awam yang hanya berpengetahuan syariat. Ada tiga kriteria tentang seseorang yang telah diangkat Allah menjadi wali (kekasih-Nya). Pertama, ia mengerti bahwa dia telah diangkat derajatnya menjadi kekasih Allah, dan sesama mereka pun mengakui tentang derajat tersebut. Kedua, ia mengerti telah diangkat derajat menjadi wali (kekasih Allah), tetapi orang lain termasuk para kalangan wali sendiri tidak mengerti tentang hal itu. Ketiga, Allah mengangkat dia menjadi wali (kekasih-Nya), tetapi dia dan wali-wali yang lain tidak mengerti sama sekali. Kecenderungan umum para wali bersikap menyendiri, takut rahasia dirinya dengan Tuhan diketahui orang. Keistimewaan waliyullah adalah kaya akan pengetahuan bathin (ketuhanan), tidak pernah takut dan khawatir. Menyimpan rahasia dirinya dengan Tuhannya. Diberi Allah pemahaman dimensi dhohir dan dimensi bathin. Para waliyullah mempunyai tingkatan-tingkatan sesuai dengan kadar kedekatan dirinya pada Allah. Kedudukan para wali sederajat dengan ulama. Hanya perbedaannya bahwa wali cenderung menyendiri. Keistimewaan irrasional yang terjadi pada para wali disebut karamah.

e. Golongan Ulama
Golongan ulama ialah golongan tokoh agama pewaris Rasulullah. Ia dikatakan ulama karena ia mempunyai pengetahuan lahir (syariat) dan bathin (tasawuf/ketuhanan) yang berprilaku mengikuti jejak Rasulullah SAW. Tidak dikatakan ulama bila hanya paham bab lahir (syariat) saja, atau juga tidak dikatakan ulama kalau hanya menguasai bab bathin (tasawuf) melulu. Perpaduan pengetahuan lahir dan bathin maka seseorang berhak mendapat predikat ulama. Setelah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya wafat, puncak tertinggi yang memegang masalah agama adalah ulama. Tingkatan pemahaman para ulama berbeda-beda tergantung rahmat dan hidayahyang diberikan oleh Allah. Sumber pengetahuan ulama tidak hanya dari Kitabullah dan Sunnah Nabi saja, tetapi juga lewat realaitas kehidupan social yang mengitarinya. Maka seorang ulama harus berani berjitihad, selama ijtihad itu untuk kemaslahatan umat dan tidak memiliki tedensi individu. Suatu ijtihad dapat dijadikan pegangan, bila ijtihad yang dikeluarkan tidak menyimpang dari dimensi bathin dan dimensi lahir dari agama.

f. Nabi atau Rasul
Golongan para Nabi dan Rasul ialah golongan manusia pilihan yang diangkat khusus oleh Allah. Pangkat kenabian atau kerasulan adalah pangkat yang diberikan Allah, tanpa direncana dan diusahakan. Oleh karena itu setiap orang tidak dapat mengaku sebagai Nabi atau Rasul. Setelah Rasulullah SAW pintu kenabian dan kerasulan ditutup. Bila ada seseorang mengaku dirinya sebagai nabi atau rasul maka itu adalah kebohongan dan sesat. Setelah Rasulullah SAW wafat predikat tertinggi yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah ulama atau wali, sebab mereka adalah pewaris para nabi dan rasul. Sumber pengetahuan Nabi atau Rasul berasal langsung dari Allah (lewat wahyu). Sedangkan Ulama yang mengikuti dan mempraktekkan apa yang pernah diajarkan oelh para Nabi dan Rasul tadi. Tidak ada ajaran Nabi dan Rasul itu menyimpang dari ajaran tauhid. Sebab kebenaran ajarannya sudah dijamin oleh Allah. Bagi seprang Ulama pribadi Rasul adalah sebagai teladan. Tingkat tinggi rendah keulamaan seseorang ditentukan oleh tingkat seberapa jauh mereka mengikuti jejak Rasul SAW.

2. Petunjuk untuk Menuju Allah

Untuk mencapai ketingkat hakekat pemahaman yang lurus dan benar dalam mendalami pengetahuan lahir dan bathin dari ajaran agama, maka ada beberapa petunjuk yang patut diperhatikan:

a. Jangan menjadi Muttabi'
sebelum menjadi Santri
Maksudnya, untuk menjadi pengikut yang betul ideal dalam suatu kelompok jamaah (pengajian atau zikir) hendaklah terlebih dahulu menjadi santri. Kenapa demikian? Sebab jika pernah menjadi santri, maka ia akan dapat mempertimbangkan benar atau salah ajaran yang ia terima dari kelompok jamaah yang ia ikuti. Seorang muttabi' (pengikut) yang pernah menjadi santri paling tidak sudah mempunyai sedikit bekal pengetahuan agama, sehingga tidak mudah terombang-ambing. Muttabi' akan bersikap lapang dada, tawadu', menghargai pendapat orang lain, tidak fanatik buta. Dengan pemahaman agama yang diperoleh dari kyainya cukup menjadi pedoman bagi dirinya.


b. Jangan menjadi Santri
sebelum jadi Kyai/Ustadz
Maksudnya, untuk menjadi santri yangideal dan mumpuni, maka terlebih dahulu hendaklah santri perbah menjadi kyai/ustadz atau paling tidak pernah memberi dan menyampaikan pengetahuan dan pemahaman agama kepada orang lain. Menjadi santri sebelum menjadi kyai akan menjadikan santri yang tidak kreatif dan berkembang, sebab yang diharapnya hanya berkah kyainya (gurunya). Kyai dianggap manusia luar biasa yang tanpa dosa. Santri yang belum pernah menjadi kyai/ustadz akan sulit untuk mengetahui kadar ilmu yang diberikan oleh kyainya, juga tidak akan pernah mengerti kadar perbuatan baik buruk yang dilakukan oleh kyainya. Lain halnya bagi santri yang sudah pernah menjadi kyai. Ia akan mengerti pahit manisnya seorang kyai. Maka bila ia kembali lagi ke pondok pesantren untuk belajar, tentu akhlaknya dan penghormatannya terhadap guru/kyai menjadi lebih sopan. Dan ini sekaligus gurunya pun lebih berhati-hati dan waspada dalam memberikan pengetahuan agama.

c. Jangan menjadi Kyai sebelum diangkat
Allah menjadi Wali atau Ulama
Maksudnya, seseorang jangan dulu memproklamirkan dirinya sebagai kyai sebelum ia mengerti bahwa dirinya telah diangkat menjadi kekasih Allah (wali atau ulama). Mengapa demikian? Karena seorang kyai tidak sekedar bermodal paham tafsir, hadits, fiqih dan segudang kitab-kitab berbahasa Arab, tetapi juga harus dibekali pemahaman yang mendalam tentang bathin (ilmu ketuhanan). Seorang kyai yang belum berpredikat wali atau ulama sangat sulit untuk dapat membedakan mana bisikan jin, syetan atau malaikat. Bagaimana mungkin seorang kyai akan mengajarkan perkara ibadah yang berdimensi lahir dan bathin kalau ia sendiri tidak mengerti hakekat bathin itu sendiri? Bagaimana mungkin seorang kyai akan mencetak santrinya menjadi kyai berwawasan lahir dan bathin kalau ia sendiri tidak mengerti penyakit bathin yang diderita para santrinya? Bagaimana mungkin ia akan menempa santrinya sesuai dengan watak masing-masing, kalau kyai sendiri tidak mampu membedakan mana satri yang berpotensi dan mana yang tidak? Kyai yang belum berpredikat wali atau ulama akan sulit untuk membimbing tahid para santrinya kearah yang lurus dan benar, karena ia belum atau kurang mampu berkomunikasi langsung dengan Allah. Ilmunya tentang tauhid hanya terbatas pada kitab-kitab yang telah dipelajari yang masih dangkal dalam praktek dan penghayatan. Padahal ilmu ketuhanan membutuhkan penghayatan langsung dengan Allah, yang kadang-kadang sama sekali belum terlukiskan dalam kitab-kitab yang sudah ada. Lantas bagaimana seorang kyai mengerti dirinya telah diangkat menjadi wali (kekasih Allah)? Itu dengan sendirinya akan diketahui oleh kyai itu sendiri. Jika kyai itu telah mempraktekkan semua ilmu baik yang berirdimensi lahir maupun bathin dan mengikuti jejak Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya, maka Allah akan memberikan isyarat tentang hal itu, baik secara langsung atau isyarat lewat para kalangan wali atau ulama sendiri.

d. Jangan jadi Wali/Ulama
sebelum jadi Nabi/Rasul
Maksudnya, jangan sekali-kali memproklamirkan dirinya sebagai wali atau ulama sebelum ia dapat mencontohkan perilaku para nabi dan rasul. Kenapa? Karena ulama atau wali itu hakekatnya adalah pewaris para nabi. Setelah Rasulullah s.a.w. wafat, tugas mengembangkan agama diberikan kepada para wali atau ulama. Peran sentral tugas agama terletak di pundak ulama atau wali, maka selama itu pula kesucian ajaran-ajaran agama masih dapat ditegakkan. Tetapi sebaliknya, jika banyak orang mengaku ulama atau wali sementara perbuatannya cenderung kearah duniawi (cinta dunia) dan berani mengabaikan nilai-nilai agama, itu pertanda ajaran agama telah sirna. Patokan umat telah hilang, sehingga kondisi keberagamaan umat teromabng-ambing. Orang tidak bisa lagi membedakan yang haq dan yang bathil. Umat berada diambang kehancuran. Banyak orang mengaku dirinya ulama atau kyai wali, padahal perbuatannya sama sekali tidak mengikuti para nabi dan rasul. Maka dari itu ikutilah para nabi dan rasul secara lahir bathin jika ingin diberikan Allah predikat sebagai wali atau ulama.

ical © copyright 2009 - 2020